BIG Percepat Buat Peta Skala Besar
Saturday, 09 September 2017
BIG Percepat Buat Peta Skala Besar

BOGOR - Dalam rangka mempercepat kebutuhan peta skala besar atau lebih detail berskala 1:5000, Badan Informasi Geospasial (BIG) memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi dengan melibatkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

"Kita perlu terobosan untuk mencapai kebutuhan peta skala besar itu. Tahun depan ditargetkan rampung 100 persen untuk tata ruang," kata Kepala BIG, Hasanuddin Z Abidin, di Jakarta, Jumat (8/9).

Dalam rilis Launching Hari Informasi Geospasial 2017 bertema Kemandirian Geospasial untuk Kedaulatan Bangsa dan Negara, Kepala BIG, Hasanuddin Z Abidin mengatakan, peta skala besar dibutuhkan untuk rencana detail tata ruang, pemetaan desa dan reforma agraria.

"Kita ingin mendorong produk informasi geospasial bisa termanfaatkan dengan baik. Sebab kalau tidak akan percuma. Oleh sebab itu, kita harus mandiri," ucapnya.

Terkait penyediaan peta dasar, lanjut Hasanuddin, BIG berkewajiban membuat peta skala 1: 1000 hingga lebih dari skala 1: 1.000.000. Saat ini permintaan skala terbanyak adalah untuk tata ruang 1:5000.

Namun sayangnya, ketersediaan petanya baru 1 persen dari seluruh wilayah Indonesia karena keterbatasan anggaran. Untuk itu diperlukan terobosan dengan memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi.

Untuk memecahkan persoalan anggaran, Hasanuddin berharap pemetaan dengan biaya yang mahal bisa melibatkan pemerintah daerah atau swasta. BIG hanya berperan mengawasi kevalidan peta. "Harus ada terobosan. Kalau tidak hanya mengandalkan BIG tidak akan selesai," ujarnya.

Saat ini BIG tengah mengejar target demi mewujudkan kebijakan satu peta skala 1: 50.000. Kebijakan ini dibuat untuk membereskan tumpang tindih izin dan penggunaan lahan. Hasanuddin menjelaskan, pemetaan Kalimantan sudah rampung. Selanjutnya di tahun 2017 akan diselesaikan untuk Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selanjutnya, di tahun 2018 dilanjutkan ke Papua, Maluku dan Jawa.

"Kalau peta sudah diintegrasikan tapi tidak dipakai oleh rakyat, pembangunan, pemda, kementerian lembaga buat apa. Sukses tidaknya kebijakan satu peta bergantung pada berbagi pakainya," katanya.

Kemandirian dan hadirnya Ina Geoportal diharapkan bisa menjadi acuan dalam pemetaan Indonesia. Sebabnya, produk lain seperti Google Map menurutnya bukanlah produk peta melainkan hanya potret udara yang kedalaman objeknya bisa bergeser beberapa puluh meter. (ANP)