50 Tahun ASEAN, Menuju Episentrum Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Friday, 11 August 2017
50 Tahun ASEAN, Menuju Episentrum Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Foto: Intan - Biro Pers Setpres

JAKARTA -  Terjaganya stabilitas kawasan dan terus bergerak mewujudkan kesejahteraan bersama menjadi dasar yang kuat bagi ASEAN untuk menjadi pusat perekonomian dunia. Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan dalam Perayaan 50 Tahun ASEAN yang digelar di Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan, Jumat siang, 11 Agustus 2017.

“Berdasarkan data World Economic Forum, saat ini ASEAN merupakan kekuatan ekonomi terbesar keenam di dunia dan pada tahun 2020 akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia. Dan pada tahun 2030, ASEAN akan tumbuh menjadi pasar keempat terbesar di dunia setelah Uni Eropa, AS dan RRT,” kata Presiden Jokowi.

Bagi Presiden, ASEAN juga merupakan kawasan yang istimewa bila dibandingkan dengan berbagai kawasan lain di dunia. Di saat sebagian kawasan lain menghadapi konflik berkepanjangan, ASEAN masih tetap mampu menjaga stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

"Sementara di banyak negara atau kawasan saling beradu kekuatan untuk menyelesaikan masalah, maka ASEAN menyelesaikan masalah dengan cara-cara dialog dan negosiasi," ujar Presiden.

Sama halnya dalam bidang perekonomian, di saat kawasan lain mulai pesimis akan kelangsungan integrasi ekonomi mereka, ASEAN malah terus bergerak maju mengintegrasikan ekonominya, bahkan dengan negara-negara sahabat di luar ASEAN.

Namun, diakui olehnya, tantangan yang akan dihadapi oleh ASEAN dimasa mendatang tidaklah mudah. Dari sisi politik keamanan misalnya, Presiden mengatakan bahwa ASEAN akan menghadapi rivalitas negara-negara besar yang saling berebut pengaruh di kawasan Asia Tenggara maupun di level global.

“Di tengah rivalitas kepentingan negara-negara besar itu, ASEAN harus mampu menjaga kesatuan dan sentralitasnya, hanya dengan bersatu, ASEAN akan bisa menentukn masa depannya sendiri, tanpa harus didikte oleh kepentingan negara-negara besar,” tegas Presiden.

Adapun dalam bidang ekonomi, ASEAN disebut Presiden harus mampu menjawab tantangan global di tengah lesunya perekonomian dunia. Seluruh anggota ASEAN harus mampu mengintegrasikan ekonominya untuk dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, bagi rakyat ASEAN.

"Membawa manfaat bukan hanya bagi pengusaha besar, tapi juga pada UKM, petani, nelayan, dan sektor informal. Mendatangkan manfaat bagi perempuan dan bagi anak-anak muda," ia menambahkan.

Sudah menjadi tugas bersama agar rakyat ASEAN dapat merasakan kehadiran organisasi yang berdiri pada 8 Agustus 1967 itu. Apa yang terjadi dengan peristiwa "Brexit" di kawasan lain harus dijadikan pelajaran bersama agar tak terjadi di wilayah kita.

"Jika hasil pembangunan ASEAN tidak dapat dirasakan manfaatnya bagi rakyat ASEAN, maka tentu mereka akan bertanya apa manfaat ASEAN buat kami?" ujarnya.

Bersatu Atasi Ancaman Terorisme dan Kejahatan Lintas Batas

Ancaman terorisme global tentu juga dihadapi oleh ASEAN. Hal itu perlu dijadikan perhatian khusus bagi para negara anggota ASEAN di samping tantangan lain di bidang politik dan ekonomi. Hanya satu solusi yang ditawarkan Presiden Joko Widodo terkait hal ini.

"Serangan terorisme di Marawi menjadi wake up call bagi kita yang perlu direspons dengan segera. Untuk itu kita harus terus bersatu, galang kerja sama, dan perkuat sinergi untuk memerangi terorisme," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Negara berbagi pengalaman seputar penanganan terorisme dan tindak kejahatan lintas batas yang melibatkan kerja sama antarnegara anggota. Seperti pertemuan trilateral antara pemerintah Indonesia, Filipina, dan Malaysia untuk memperkuat dan menjaga masing-masing kawasan dari ancaman kejahatan. Selain itu, Indonesia juga menggagas pertemuan subregional dengan Australia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina di Manado tanggal 29 Juli 2017 lalu.

"Saya yakin dengan kerja sama yang lebih erat, lebih kuat, ini kita bersama-sama akan mampu melawan ancaman terorisme di kawasan ini," yakinnya.

Tak kalah pentingnya, perang terhadap penyalahgunaan obat dan perdagangan obat terlarang harus terus digencarkan. Bagi mantan Gubernur DKI Jakarta ini, tak ada jalan lain selain harus menyatakan perang terhadap hal tersebut dan bertindak nyata.

"Kita tidak ingin kaum muda ASEAN kehilangan masa depannya karena dirusak oleh obat-obatan terlarang ini. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kita bersatu membebaskan ASEAN dari narkoba dan obat-obatan terlarang," ujarnya.

Di penghujung sambutannya, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan apresiasinya kepada negara mitra wicara ASEAN yang telah berkontribusi bagi perkembangan ASEAN. Semangat persahabatan dan semangat kemitraan antara ASEAN dengan semua negara-negara sahabat di dunia harus menjadi jembatan bersama dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan dunia.

"Selamat ulang tahun ASEAN. Bersama ASEAN, Indonesia maju. Bersama Indonesia, ASEAN kuat," tutupnya. (ANP)