Concrete Show SEA 2017 Dukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur
Friday, 11 August 2017
Concrete Show SEA 2017 Dukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Jakarta – PT UBM Pameran Niaga Indonesia kembali akan menyelenggarakan pameran serta konferensi industri beton dan konstruksi terkemuka se-Asia Tenggara, Concrete Show South East Asia (SEA) 2017 di Indonesia untuk kelima kalinya, pada 13-16 September 2017 bertempat di Jakarta International Expo, Kemayoran. Pameran ini merupakan platform yang tepat bagi para pemain di industri beton dan konstruksi, baik di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara untuk memperluas jaringan dan mengembangkan bisnisnya, serta membawa solusi untuk mendukung rencana program pemerintah dalam peningkatan percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia.
 
Sektor konstruksi terutama penyediaan sarana dan prasarana fisik (infrastruktur) merupakan salah satu sektor penting dalam sistem pembangunan ekonomi. Infrastruktur menjadi salah satu pilar penyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, sektor konstruksi berada di posisi ketiga sumber pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan kontribusi 0,51 persen setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Peningkatan sektor konstruksi tersebut membuat ekonomi Indonesia pada tahun 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 sebesar 4,88 persen. Bahkan pada triwulan I-2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen (yoy) terhadap triwulan I-2016. Pesatnya pertumbuhan industri konstruksi telah mengubah sektor konstruksi menjadi penyumbang terbesar pendapatan nasional Indonesia, dimana kontribusi sektor konstruksi bagi pembentukan produk domestik bruto (PDB) pun cukup signifikan, yakni 10,38 persen atau di urutan ke-4 setelah sektor industri, pertanian, dan perdagangan.
 
Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Indonesia, Christopher Eve mengungkapkan, pemerintah Indonesia masih terus fokus pada pembangunan sektor konstruksi dan infrastruktur sebagai salah satu faktor penting untuk mendorong perekonomian nasional. Percepatan pembangunan infrastruktur, akan mempercepat jalannya tingkat pertumbuhan perekonomian nasional. Pasar konstruksi Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN yang menyumbang 60-70 persen dari total pasar di wilayah ini. Konstruksi beton menyumbang 40 persen bahan bangunan yang digunakan dalam proyek-proyek di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas industri beton pracetak dan prategang nasional menjadi 50% hingga 2019. Porsi 50% hingga 2019 dalam rangka menciptakan efektivitas, efisiensi dan kualitas dalam penyelenggaran kontruksi.
 
“Melihat potensi Indonesia sebagai salah satu pasar konstruksi yang terus berkembang, PT UBM Pameran Niaga Indonesia kembali menyelenggarakan Concrete Show SEA 2017 di Indonesia untuk kelima kalinya. Salah satu produk unggulan yang akan ditampilkan pada Concrete Show South East Asia adalah produk pracetak dan prategang dimana teknologi pracetak dan prategang merupakan salah satu teknologi yang sangat mendukung untuk percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ujarnya.
 
Salah satu penerapan teknologi beton pracetak di Indonesia adalah pada proyek pengembangan infrastruktur simpang susun Semanggi, Jakarta yang rencananya akan jadi infrastruktur pengentas kemacetan di kawasan Semanggi. Pengerjaan pembangunan simpang susun Semanggi dilakukan PT Wijaya Karya Tbk. dengan menggunakan dana yang berasal dari nilai kompensasi pengembang PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.
 
Direktur Teknik dan Sistem Manajemen PT Wijaya Karya Beton Tbk, Sidiq Purnomo mengatakan, teknologi yang digunakan dalam pembangunan simpang susun Semanggi merupakan salah satu contoh kemajuan dunia konstruksi Indonesia. Metode pembangunan jembatan lingkar Semanggi menggunakan sistem beton pracetak segmental box girder dengan metode erection pengangkatan dengan lifter yang diperkuat dengan prestressed. Metode ini dilakukan dengan merangkai segmen-segmen box girder dengan memanfaatkan gaya-gaya prategang (prestressing forces), sehingga mendapatkan bentang panjang sampai dengan 80 meter tanpa kolom di bawahnya.

“Setiap box girder dicetak secara khusus dan presisi. Setiap pemasangan box girder hanya membutuhkan 60 - 80 menit tanpa mengganggu arus lalu-lintas di bawah jembatan. Penggunaan teknologi pracetak ini dapat menghemat waktu pengerjaan proyek simpang susun Semanggi sehingga lebih berkualitas,” katanya.
 
Dengan menggunakan teknologi jembatan terkini, proses pembangunan proyek bisa berjalan sangat cepat serta pembiayaannya bisa efisien. Dalam perencanaan awal, pembangunan simpang susun ditargetkan rampung dalam 540 hari atau sekitar 18 bulan. Namun pada akhirnya, pembangunan jembatan layang dengan total panjang mencapai 1,6 km ini hanya membutuhkan waktu 15 bulan. Efisiensi waktu dalam proses penyelesaian proyek simpang susun Semanggi bisa dilakukan karena menggunakan teknologi beton pracetak.
 
Christopher Eve kembali menambahkan, peningkatan teknologi konstruksi harus terus dikembangkan agar percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia dapat tercapai dan akan mempercepat jalannya tingkat pertumbuhan perekonomian nasional. Concrete Show South East Asia diharapkan dapat menjadi sarana meningkatkan kemampuan dan kualitas konstruksi dimana semua pemain utama global di industri ini berkumpul dan berinteraksi.

“Para pelaku industri dalam negeri dapat memanfaatkan pameran ini untuk dapat memperbaharui informasi, menemukan solusi dan mengadopsi teknologi konstruksi yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produk beton di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan nantinya Indonesia tidak hanya mampu bersaing lebih baik dengan negara-negara ASEAN tetapi juga mampu menghasilkan proyek-proyek berkualitas dalam pembangunan negeri ini,” tambah Christopher Eve.
 
Concrete Show SEA 2017 akan menghadirkan berbagai macam produk, jasa dan teknologi beton dan konstruksi, seperti concrete mixer, batching plant, mesin bata ringan, dan teknologi besi beton. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada 2017 ini Concrete Show South East Asia 2017 akan diselenggarakan bersamaan dengan Construction Indonesia 2017 dan Mining Indonesia 2017 yang menjadikan acara ini Pameran Konstruksi terbesar dan terlengkap di Indonesia.
 
“Hingga saat ini Concrete Show South East Asia telah diikuti oleh hampir 200 peserta dari 23 negara yang menampilkan produk, jasa dan teknologi di bidang beton pracetak dan prategang, produksi beton ready mix, dan alat-alat konstruksi lainnya. Kepesertaan dari Indonesia diantaranya Wika Beton, Waskita Beton, Bina Barutama dan lainnya. Akan hadir pula peserta dari negara Jerman, Tiongkok, Singapura, Austria, Inggris, Korea, Jepang dan Italia.  Jumlah pengunjung yang diharapkan hadir mencapai 6,000 orang, tutup Christopher Eve. (ANP)