Wartawan Cetak, Pekerjaan Anda Hebat!
Monday, 19 June 2017
Wartawan Cetak, Pekerjaan Anda Hebat!

Media Cetak akan Mati! 

San Francisco - General Manager Inside.com Austin Smith menegaskan, "Media cetak akan mati, akan terjadi berbeda-beda di setiap tempat, tidak tahu kapan, tetapi bukan berarti jurnalisme akan mati." 

Pimpinan situs yang menyediakan pilihan berita berbayar melalui layanan email itu, punya alasan kuat. "Sangatlah mahal memotong pohon untuk menyajikan jurnalisme melalui hasil pepohonan, lalu mengantarnya ke rumah orang, karenanya distribusi digital membuat mejadi makin masuk akal." 

Transisi antara distribusi konvensional menjadi digital tersebut, juga menghadapi banyak tantangan dan kesempatan. Menurut Smith, transisi itu sudah terjadi sampai sekarang. Sejauh ini, Facebook-lah juaranya. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan media cetak sebesar 5 miliar dolar Amerika Serikat, telah menghilang. Sedangkan pendapatan iklan Facebook meningkat 3 miliar dolar AS. 

"Artinya, sekitar 60 persen pendapatan print media beralih ke Facebook. Saya harap transisi ini membuat Facebook tak akan menjadi satu-satunya pemenang, tentulah akan menjadi sangat menarik," tutur Austin. 

Pernyataan itu diungkapkan dalam sesi bersama inside.com, sebagai bagian dari kegiatan reporting tour, Foreign Press Center - US Departement of State, Senin (12/6/2017).

Pernyataan tentang matinya media cetak dari Austin, ikut menghentak hadirin yang terdiri dari 18 jurnalis terpilih dari 18 negara termasuk Indonesia, yang diwakili Sindotrijaya FM. Pesimisme pun dirasakan peserta yang mayoritas merupakan wartawan koran atau pernah dibesarkan olehnya.

Pesimisme Seiring Pemecatan
Pemecatan wartawan menjadi kabar yang sering terdengar dalam berbagai sesi reporting tour. Cerita tentang redupnya kebebasan pers, bukan hanya terkait kekerasan dan intimidasi, tetapi juga lesunya bisnis media massa, terutama koran. 

Dalam sesi sebelumnya di Washington, DC, Senin (5/6/2017), Profesor Charles "Chuck" Lewis dari American University School of Communications sudah menceritakan sisi kelam kondisi pers Amerika Serikat, yang terbentur pada sisi komersial. 

"Kami kehilangan sekitar setengah dari jurnalis profesional dalam 20 tahun belakangan. Artinya, telah berkurang 1/3 jurnalis yang meliput legislatif negara bagian. Tahun lalu, negara bagian New Hampshire tidak mempunyai jurnalis yang meliput badan legislatifnya. Kita kehilangan 15-20 ribu jurnalis kehilangan pekerjaannya. Sangat menyedihkan, tragis, teman saya kehilangan pekerjaan," tutur Chuck yang pernah bekerja sebagai jurnalis investigasi dan produser program "60 Minutes" CBS News.

Menurutnya, sekitar 120 jurnalis atau bisa lebih besar dari itu, berhenti dari pekerjaannya, entah dipecat atau berhenti sukarela. 18 di antaranya sedang berkuliah di universitas. 

Pemecatan dan pengurangan ini berdampak pada kualitas jurnalisme. Dosen visual journalism di American University Lynne Perri berpendapat tentang pengurangan pegwai, yang sering menimpa fotografer dan ilustrator. 

"Menurut saya pengurangan fotografer dan ilustrator itu merupakan tindakan yang salah. Sangat jauh dari kekuatan bercerita, fotografer sekarang sangat kesulitan, banyak dari mereka bekerja dengan status kontrak atau freelance, di mana dulu kita punya big staff, full time orang, bekerja di redaksi," cerita Lynne. 

Menekankan pada visualisasi bercerita dalam setiap berita, Lynne juga menunjukkan bagaimana data dan fakta sederhana mampu menampilkan kekuatan visual, telah menjadi tren media cetak di Amerika Serikat. "Namun, saya pikir fotografer sangat terpukul, begitu juga dengan ilustrator, tim desain grafis dikurangi secara besar-besaran," kata mantan deputy managing editor untuk Grafis dan Fotografer di USA TODAY ini.

Koran Justru Bangkit

Suasana kelam berganti ketika peserta menuju kantor redaksi koran lokal San Francisco Examiner. Optimisme dan semangat perwakilan jurnalisnya menyambut ketika kunjungan rombongan reporting tour ke redaksi SF Examiner, Selasa (13/6/2017).

Bukan tanpa alasan, SF Examiner sendiri menjadi bukti masih perkasanya media cetak. Paling tidak di tingkat lokal, sirkulasi SF Examiner masih menjadi yang tertinggi di San Fransico, bahkan meningkat, dengan 240 ribu kopi, yang tertinggi pada edisi hari Minggu. Beroperasi sejak tahun 1896, SF Examiner telah bergonta-ganti pemilik, bergonta-ganti kebijakan arah pemberitaan, tetapi bertahan menjadi bagian tak terpisahkan dari warga kota San Fransisco - California. 

"Jurnalisme tidak sedang sekarat. Orang selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi, dan anda tak bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Managing Editor SF Examiner Laura Dudnick, yang mengaku sempat dipecat dari perusahaan online, lalu direkrut oleh media cetak tempatnya berkarya sekarang. 

Pewarta kriminal Jonah Owen Lamb menambahkan, "Produk cetak sebenarnya sedang bangkit kembali. Buku kembali dibeli orang, sementara penjualan e-book menurun. Generasi milenial juga ingin sesuatu yang dipegang."

Selain itu, tujuan jurnalisme adalah mendokumentasikan apa yang terjadi, koran akan menjadi dokumen bersejarah. Ketika peristiwa penting terjadi di dunia, orang akan mendokumentasi untuk menghormati apa yang terjadi.

"Cover edisi kemenangan klub basket kesayangan warga kota, Golden State Warriors, mungkin akan digantung di dinding. Orang menjual sampul koran kami di eBay, saat Presiden Trump terpilih, sebagai memori atau penghormatan," jelas Laura.

Untuk jurnalis khususnya media cetak yang menghadapi pemecatan, wartawan yang telah bekerja lebih dari satu dekade ini berpesan, "Jika tetap ingin berada dalam lingkup jurnalisme, tetap kejar impian, karena jurnalisme sangat-sangatlah penting, dan anda melakukan pekerjaan luar biasa!"

(MAR)