Tips Mendeteksi Fake News
Monday, 19 June 2017
Tips Mendeteksi Fake News

Washington, DC - Direktur Media Entrepreneurship American University Amy Eisman menyampaikan berbagai tips mendeteksi fake news, yang juga bisa diartikan sebagai hoax, propaganda, atau kesalahan yang disengaja pada suatu fakta. Hal itu diungkapkan dalam sesi "Melawan Fake News", sebagai bagian dari kegiatan reporting tour, Foreign Press Center - US Departement of State, Senin (5/6/2017) di School of Communication American University. 

"Sekarang semua orang berusaha melawan berita palsu, sampai kapan akan berakhir? Teknologi bisa memulainya, tetapi teknologi juga yang memperparah penyebaran fake news," jelas Eisman di depan 18 jurnalis dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurut Eisman, perlawanan terhadap fake news telah dilakukan Facebook dengan rubrik khusus agar penggunanya 'melek' media. Para investor teknologi pun menanamkan dananya secara komersial, begitu juga lembaga non profit, yang berusaha menekan peredaran berita hoax, selain tentu saja ruang-ruang redaksi berita bersama pengecek faktanya (fact-checkers).

Seperti tertulis dalam fakenews.augamelab.com, deteksi fake news bisa dilakukan dengan bertanya: 

  • Apa sumber beritanya? Apakah kita bisa mengenal media massa yang menerbitkan beritanya? Apakah independen, partisan, atau satir? 
  • Apa tujuannya? Apakah artikelnya berusaha untuk menginformasikan, memanas-manasi, membujuk, menghibur? 
  • Apakah ada kolom "Tentang Kami" atau "About" atau "About us"? Banyak situs jelas menyampaikan catatan jika isinya satir atau partisan. 
  • Jika tidak ada informasi kontak, maka media tersebut diragukan kredibilitasnya. 
  • Jika terdengar terlalu bagus, maka mungkin saja bukan fakta. Jika beritanya membuat sangat marah, puas, atau mengonfirmasi prasangka, maka mungkin saja kita telah dimanipulasi. 
  • Apakah beritanya memenuhi standar? Apakah narasumbernya jelas? Apakah faktanya bisa dicek? Apakah ada nama penulis dan tanggal? Apakah ejaan dan tanda bacanya benar? Apakah nama situsnya sesuai dengan alamat URL?
  • Apakah bisa dicek? Pencarian cepat akan memberi tahu apakah situs berita lain juga memberitakan fakta yang sama. 

Cek juga kebenaran di beberapa pengecek fakta di antaranya Snopes.com, factcheck.org, politifact.com, atau Washington Post Fact Checker untuk melihatnya apakah terverifikasi atau malah dinyatakan bohong. 

Untuk melatih deteksi terhadap fake news, American University Game Lab dan JoLT membuat game menarik bernama Factitious. Meski berisi berita terkait Amerika Serikat, kita juga bisa menggunakannya sebagai sarana melatih literasi untuk membedakan hoax atau bukan. 

Dengan begitu, khalayak media sendiri mampu melawan fake news secara kritis, karena menurut firma investasi, hanya 16 persen media, baik media sosial maupun media massa, yang mampu melawan hoax. Perbandingannya, Google dan Facebook mampu menyajikan content yang lebih tertata dibanding Twitter, namun content ketiganya tidak lebih baik daripada organisasi berita seperti Thomson Reuters dan New York Times.

(MAR)