Faktor Keuangan dan Marketing Jadi Kendala Utama Untuk Pembangunan Desa
Friday, 19 May 2017
Faktor Keuangan dan Marketing Jadi Kendala Utama Untuk Pembangunan Desa

JAKARTA – Pemerintah telah menyalurkan dana desa yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada 2015, anggaran dana desa adalah Rp 20 triliun, pada 2016 Rp 47 triliun, dan pada 2017 Rp 60 triliun. Namun hal tersebut masih dirasa kurang dalam meningkatkan perekonomian dan pembangunan desa. Hal tersebut mengemuka dalam dialog Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) di Jakarta,  Jumat (19/5).

Sekjen Kemendes PDTT, Anwar Sanusi mengatakan, berbagai kendala untuk meningkatkan perekonomian desa menjadi sorotan pemerintah. Untuk itu pihaknya memfasilitasi pertemuan antara para kepala daerah dengan sector swasta, agar produk-produk unggulan desa dapat terserap dengan baik di pasaran. Menurutnya, kendala yang dihadapi diantaranya modal, sumber daya manusia hingga produksi.

“Ini pertemuan awal kita fasilatasi  antara kepentingan yang ada di daerah kabupaten. Mereka hadapi berbagai kendala. Baik modal, sdm hingga produksi,” tegas Anwar.

Ia menjelaskan, sangat dibutuhkan dukungan dan peran swasta dalam pengembangan produk unggulan desa, mulai dari bantuan permodalan, pengolahan pasca panen hingga pemasaran produksi. Untuk memuluskan komitmen itu, kata Sanusi, para Bupati berkomitmen membantu swasta terkait perijinan, pengadaan lahan untuk menanamkan investasi di daerah.

“Para bupati tadi memaparkan tentang produk unggulan yang akan berkembang jika mendapatkan dukungan swasta. Komitmen bupati untuk memberikan dukungan baik ijin dan pengadaan lahan untuk berinvestasi di 8 kabupaten,” ujarnya.

Anwar mengakui, masalah utama yang dihadapi daerah untuk pengembangan produk unggulan adalah persoalan keuangan dan marketing. Meskipun dana desa telah disalurkan, namun masih dirasa kurang jika dilihat dari kebutuhan. Selain itu, aspek pemasaran menjadi kendala karena meski produksi melimpah tetapi penyerapan masih kurang. Sehingga diharapkan dengan peran swasta kendala tersebut bisa teratasi.

“Masalah paling utama yaitu persoalan money dan marketing. Dari sisi keuangan meski ada dana desa, jika dilihat dari kebutuhan masih kurang. Aspek pemasaran produksi melimpah tapi tidak ada mata rantai serapan. Kehadiran swasta sangat penting,” tambahnya. (ANP)