Kunjungan Menteri PP & PA ke Afghanistan
Friday, 19 May 2017
Kunjungan Menteri PP & PA ke Afghanistan

KONFERENSI PERS

MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK RI

Dalam rangka : Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace

Jakarta, 19 Mei 2017

 

Yth. Para Eselon I, Kementerian PPPA

Yth. Teman-teman Media

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera untuk kita semua

Om Swasiastu.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah melimpahkan Rahmat dan HidayahNya kepada kita semua sehingga pada siang hari ini kita dapat melaksanakan konferensi pers dengan rekan-rekan wartawan.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa informasi terkait dengan kehadiran saya beserta rombongan pada pertemuan Symposium on “the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace”.

  • Pertemuan diselenggarakan pada 15-16 Mei 2017 menyoroti peran dan kontribusi perempuan Afghanistan bagi perdamaian. Sebagai Menteri Perempuan Indonesia pertama yang mengunjungi Afghanistan, saya datang ke sana mempunyai tujuan untuk melakukan kerja sama bilateral pada bidang pemberdayaan perempuan. Dalam hal ini, peran aktif Indonesia akan difokuskan dengan menggambarkan peran perempuan sebagai penjaga perdamaian dan juru runding dalam upaya mengatasi konflik ketegangan sosial serta menjadi penengah kelompok-kelompok yang bertikai. Kunjungan kami ke Afghanistan merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani pada 5-6 April 2017 sebagai kunjungan kenegaraan pertama dalam sejarah hubungan bilateral semenjak 62 tahun yang lalu. Acara ini juga dihadiri oleh Ibu Negara Afghanistan, H.E. Rula Gani dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Afghanistan, H.E. Dilbanasari.
  • Dalam kunjungan tersebut, kami menjelaskan latar belakang demografi, situasi ekonomi, dan budaya Indonesia yang rentan akan ketegangan etnis dan agama yang mengakibatkan adanya kekerasan pada perempuan dan anak, serta tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia dalam menanamkan kerukunan dan toleransi serta mencegah dan mengatasi ketegangan sosial di antara warga negaranya. Selain itu kami juga menjelaskan terkait dengan Mandat Kementerian PPPA yaitu merumuskan dan mengkoordinasikan kebijakan dan program tentang kesetaraan gender dan pembangunan pemberdayaan perempuan di semua tingkatan.
  • Dalam upaya mengatasi dan mengurangi diskriminasi dan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, pada 2016, Kemen.PPPA meluncurkan program unggulan yang disebut 3Ends. Program 3Ends bertujuan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan orang, dan mengAkhiri ketidakadilan akses ekonomi terhadap perempuan. Untuk memperkuat kerangka hukum tentang konflik sosial, pemerintah juga mengeluarkan berbagai Undang-Undang dan peraturan.
  • Dalam memperkuat kerangka kelembagaan dan pelaksanaan kebijakan dan program, Kemen PPPA terkait masalah konflik, telah diterbitkan Rencana Aksi Nasional Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam situasi konflik sosial yang terdiri dari program pencegahan dan perlindungan korban perempuan pada konflik dan promosi pemberdayaan perempuan dan partisipasi anak dalam menangani konflik sosial.
  • Pemberdayaan perempuan di Afghanistan merupakan isu prioritas bagi KBRI Kabul, Pemerintah Afghanistan, Uni Eropa, dan PBB sehingga kehadiran Menteri PPPA sangat berarti bagi hubungan kedua Negara.
  • Hal yang telah kami pelajari sejauh ini dari sejumlah aktivis perempuan Indonesia adalah banyak kaum perempuan yang dapat menggunakan “soft power” secara efektif dalam pengaruh sosial dan tradisional di komunitas mereka melebihi pasangan laki-laki dalam berbagai konflik. Saya sangat mengharapkan melalui simposium ini, kita tidak hanya dapat menunjukkan komitmen yang lebih kuat untuk kerjasama dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan dalam situasi konflik, namun juga memperkuat jejaring serta mekanisme untuk berbagi pengalaman.
  •  Kementerian Pemberdayaan Perempuan Afghanistan akan mempelajari salah satu program Kemen PPPA, yakni Kota Layak Anak, P2TP2A untuk mengembangkan Pusat Layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, pemberantasan buta huruf dan Pemberdayaan Perempuan di tingkat desa. Pemerintah Indonesia akan mengundang 5 orang wakil dari Afghanistan untuk mempelajari tentang pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia. Selain itu, setelah bertukar pengalaman dengan perempuan pengusaha di Indonesia, Afghanistan baru saja meresmikan pembentukan asosiasi perempuan pengusaha.
  • Adapun pada 2017 ini sudah ada beberapa MOU yang disepakati antara pemerintah Afghanistan dan Indonesia, antara lain MOU antara Kementerian Pendidikan, MOU antara Kementerian Pertanian, MOU antara Badan Statistik, MOU antara Badan Administrasi Negara, dan MOU antara Kementerian Keuangan yang seluruhnya disepakati dan ditandatangani di Jakarta pada 5 April 2017 lalu.
  • Simposium ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan program bilateral antara Indonesia dan Afghanistan dalam mempromosikan resolusi konflik sosial melalui pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan perempuan dan anak-anak yang tinggal dalam situasi konflik.
  • Indonesia juga akan mengadakan symposium tentang Ibu sebagai pembawa pesan perdamaian yang merupakan salah satu acara dari rangkaian Hari Ibu.
  • Pesan saya kepada seluruh perempuan dan anak di mana pun mereka berada terutama di daerah yang sedang berkonflik, kalian tidak sendirian, karena perempuan dimana pun menghadapi permasalahan yang sama. Kita harus bergandengan tangan, tetap optimis dan percaya serta berdoa kepada Tuhan untuk yang terbaik.
  • Secara khusus kepada perempuan Afghanistan, Saya akan memberikan dukungan terhadap perjuangan mereka untuk mandiri, kretif, percaya diri dan meningkatkan kemampuan diri mereka. Secara bersama-sama mereka akan membangun kedamaian dan kesejahteraan Afghanistan.

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  Yohana Yembise