Begini Cara Melawan Hoax
Wednesday, 03 May 2017
Begini Cara Melawan Hoax

Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menggunakan kata fake news, untuk menunjuk pada berita-berita yang tidak disukainya. Kata fake news dipakai untuk menggambarkan berita yang kritis terhadap kebijakan pemerintahannya. 

Pernyataan itu diungkapkan Direktur Broadcast and Digital Journalism di Stony Brook University di New York, Professor Steven Reiner, dalam rangkaian kegiatan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Selasa - Rabu (2-3/5/2017). 

Masifnya fenomena fake news tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga seluruh dunia. Masalahnya, apakah semua orang menyadari, informasi yang didapatnya benar atau palsu.

"Kebanyakan orang Amerika tidak menyadari bahwa fake news adalah fenomena global, tidak hanya di Amerika Serikat, Indonesia, dan daratan Eropa termasuk mempengaruhi pemilu di Perancis," kata Professor Reiner.  

Sebenarnya, siapa saja yang bisa membuat fake news? Professor Reiner menyatakan:
Digital entrepreneurs
Pembuat propaganda
Partisipan politik 
Pemerintah dan jajarannya. 

Menurut Reiner, fake news bisa dilawan oleh semua orang dengan menggunakan konsep melek media, yaitu kemampuan untuk berpikir kritis, lewat sistem mulai dalam diri sampai ruang redaksi, untuk selalu mengevaluasi konten digital. Caranya:

1. Lihat sumber berita. Sumber yang independen, lebih baik daripada sumber yang punya kepentingan. 

2. Sumber yang beragam, lebih baik daripada tunggal. 

3. Narasumber yang bisa membuktikan, lebih baik daripada yang menegaskan. 

4. Sumber yang berwenang / diberitahukan, lebih baik daripada sumber yang tak diberi tahu. 

5. Narasumber yang bernama jelas, lebih baik daripada anonim. 

Reiner menambahkan, "Era digital memang telah mengubah pandangan bagi produsen dan konsumen berita, namun hanya satu yang tetap. Anda perlu bertanya dua kata saja: kata siapa?"

Tak hanya tentang fake news. Melalui sesi presentasi di Pusat Kebudayaan Amerika @america - Pacific Place, Reiner bersama sejumlah jurnalis, pakar komunikasi, dan praktisi digital Indonesia, menjelaskan beragam materi di antaranya: Di mana kita bisa menemukan informasi yang dapat dipercaya? Bagaimana membedakan berita yang adil dan yang bias? Bagaimana menerapkan konsep literasi media (melek media) dalam kehidupan sehari-hari? Serta, cara menghadapi komunitas digital. 

Acara yang dihadiri puluhan mahasiswa dan jurnalis itu, juga menampilkan narasumber, di antaranya: Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, Dosen Komunikasi FISIP UI Ade Armando, Senior Editor Majalah Tempo dan Majalah Tempo Bahasa Inggris Hermien Kleden, Blogger Enda Nasution, Peneliti LSPP Ignatius Haryanto, serta praktisi media massa lainnya.

(MAR)