Menjawab Tantangan Industri Pariwisata Indonesia
Thursday, 23 March 2017
Menjawab Tantangan Industri Pariwisata Indonesia

TANGERANG – Pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Bahkan saat ini, Keindahan dan kekayaan alam Indonesia masih menjadi daya tarik yang banyak diminati. Namun demikian kondisi ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Ekonom senior dan Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Djisman S. Simandjuntak, mengatakan, Salah satu tantangan besar industri pariwisata Indonesia ke depan adalah mengubah gambaran wisata Indonesia sebagai wisata kekayaan budaya. Bukan hanya wisata sensual dengan keindahan alamnya.

“Kita membutuhkan studi ilmiah tentang event di industri pariwisata Indonesia, yang punya kekayaan budaya luar biasa ini. Kita harus bisa mentransformasi Indonesia menjadi gambaran destinasi budaya kelas dunia. Bali misalnya, harus makin bisa menjadi tempat-tempat pertemuan perusahaan, temu budaya dan seni, pertemuan komunitas ilmiah, dan lain-lain, daripada hanya terus menjadi tempat tujuan para turis yang ingin menikmati pantai”, kata Djisman disela-sela acara Eventnesia 2017 Prasetiya Mulya, di  kampus Prasetiya Mulya BSD, Serpong (18/3/ 2017).

Dalam Eventnesia karya himpunan mahasiswa prodi S1 Event Prasetiya Mulya itu dipertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor industri pariwisata, khususnya event. Acara dihadiri para pembicara seminar antara lain presiden APIEM (Asia Pasific Institute for Event Management) David Hint, wakil presiden eksekutif untuk layanan retail dan penumpang PT. Angkasa Pura Solusi, Sigit Purwa Septiadi, manajer umum bagian event Harian Kompas, Lukminto Wibowo, dan pendiri Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz.

David Hint mewakili APIEM memberikan pengakuan akreditasi tertinggi (top level) kepada prodi S1 Event Prasetiya Mulya yang telah memenuhi seluruh standar pendidikan manajemen event tingkat internasional.

“Prodi Event Prasetiya Mulya merupakan prodi pionir untuk tingkat pendidikan S1 di Indonesia dan saat ini satu-satunya program S1 yang memperoleh akreditasi dengan nilai tertinggi karena kurikulum pendidikan dan segala yang mendukung mahasiswanya untuk menjalani program ini”, jelas David.

Pendidikan tinggi bidang pariwisata lain di Indonesia yang memperoleh akreditasi dari APIEM adalah Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Sementara itu, Pengajar studi Manajemen Event Prasetiya Mulya, Peni Zulandari, mengungkapkan dalam Eventnesia 2017 juga ada ruang-ruang yang mempertemukan para pelaku profesional event dalam workshop yang pesertanya bukan hanya praktisi yang berkepentingan menjalin mitra dengan para pelaku berbagai event, namun juga para calon mahasiswa program studi event, para mahasiswa sekolah tinggi pariwisata, orang tua dan calon mahasiswa yang berminat belajar tentang manajemen event.

“Intinya mempertemukan semua stakeholder yang terlibat dalam event. Mulai dari professional EO berbagai event skala nasional untuk bisa menyelenggarakan sebuah kreasi seni yang besar”, jelas Peni.

Program diploma 3 dan 4 di bidang ini biasanya mendalami studi event seputar MICE (meetings, incentives, conferences and exhibitions). Sedang program S1 mendalami tak hanya topik MICE, tetapi juga special event. “Misalnya festival kedaerahan, kegiatan terkait dengan religi (perayaan Natal, Tahun Baru, Idul Fitri), atau yang berkaitan dengan korporasi seperti launching produk, atau perayaan individu seperti weeding, ulang tahun dan lain-lain”, jelas Peni.

Lulusan prodi ini diharapkan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun daerah dengan mengembangkan banyak event yang dapat mengangkat brand daerah dan meningkatkan perekonomian wilayah setempat.

“Apa yang dilakukan pak Azwar Anas dengan Banyuwangi yang perekenomiannya meningkat karena konsep event full citiesnya itu memberi inspirasi. Ada juga yang dilakukan Dinand Fariz dengan Jember Fashion Carnaval-nya yang mengangkat nama Jember di tingkat internasional. Prodi ini diarahkan ke harapan yang sama untuk daerah-daerah potensial di Indonesia”, tambah Peni. (ANP)